Lebih dari dua dekade setelah perilisannya, Taste of Cherry tetap menjadi sebuah meditasi yang abadi tentang kematian dan makna. Film ini dengan berani mengangkat tema yang dianggap tabu dalam budaya dan agama Islam, yaitu bunuh diri. Warisannya terus terasa dalam karya sutradara-sutradara Iran selanjutnya serta dalam diskursus tentang cinema verité (gaya film dokumenter yang terasa nyata). Bagi pecinta film, karya Kiarostami ini adalah sebuah bukti bahwa sinema tidak selalu harus menghibur; sinema bisa menjadi ruang untuk refleksi filosofis yang paling mendalam.
The final passenger is Mr. Bagheri, an elderly Azerbaijani man who works as a taxidermist at a natural history museum. Bagheri needs the money for his sick child, so he reluctantly agrees to the task. However, Bagheri spends the ride sharing his own past struggles. He confesses that he, too, once attempted suicide by hanging himself from a tree. But while adjusting the rope, he tasted a sweet mulberry. That small, sensory experience of eating a fruit, feeling the morning sun, and watching children walk to school made him realize that life was worth living. Taste Of Cherry Sub Indo
Meskipun terkesan membosankan bagi sebagian orang, Taste of Cherry berhasil mencuri perhatian dunia ketika memenangkan penghargaan tertinggi, , di Festival Film Cannes 1997, berbagi penghargaan dengan film Jepang The Eel karya Shohei Imamura. Namun, perjalanan film menuju Cannes bukannya tanpa rintangan. Pemerintah Iran awalnya melarang film ini untuk berkompetisi karena kontroversi seputar tema bunuh diri yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Kiarostami hanya diizinkan hadir di menit-menit terakhir setelah adanya intervensi. Ia mendapatkan standing ovation saat memasuki teater, namun juga mendapat campuran tepuk tangan dan cemoohan saat film selesai diputar. Lebih dari dua dekade setelah perilisannya, Taste of
The film follows (played by Homayoun Ershadi), a middle-aged man driving his Range Rover through the dusty, barren hills on the outskirts of Tehran. He is searching for someone to help him with a specific, high-paying task: burying him after he commits suicide. He has already dug a grave and plans to take a bottle of sleeping pills. He wants his assistant to come to the site at dawn and check on him—if he is alive, they must help him out; if he is dead, they must cover his body with dirt. Bagi pecinta film, karya Kiarostami ini adalah sebuah